

Masih Bingung Bedain EV, Hybrid, dan PHEV? Ini Penjelasan Simpelnya
Dalam kurun waktu singkat, penjualan mobil listrik melonjak lebih dari 200% di seluruh dunia. Dorongannya bukan sekadar tren hijau, melainkan juga kebutuhan nyata dari krisis iklim, efisiensi energi, dan regulasi emisi karbon yang makin ketat membuat kendaraan listrik jadi pilihan logis sekaligus moral.
Pemerintah Indonesia ikut turun tangan dengan subsidi kendaraan listrik agar transisi menuju energi bersih bisa berlangsung lebih cepat. Tetapi di tengah perubahan ini, banyak masyarakat masih mengernyit bingung saat mendengar istilah EV, Hybrid, dan PHEV. Ketiganya sering disebut "mobil listrik", padahal sistem tenaganya berbeda jauh.
Melalui artikel ini, kamu akan mengenal perbedaan antara EV (Electric Vehicle), HEV (Hybrid Electric Vehicle), dan PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle) dengan penjelasan yang sederhana tanpa istilah teknis yang rumit. Penjelasan ini akan membantu kamu memahami cara kerja masing-masing sistem tenaga, kelebihan, kekurangan, hingga siapa yang paling cocok menggunakan tiap jenis mobil ini.
Mengenal EV (Electric Vehicle), Mobil yang 100% Bertenaga Listrik

Mari mulai dari yang paling “murni”. EV atau singkatan dari Electric Vehicle adalah mobil yang sepenuhnya digerakkan oleh motor listrik tanpa mesin bensin sama sekali. Energinya disimpan dalam baterai berukuran besar, lalu diisi melalui charger bawaan pabrik yang bisa disambungkan di rumah atau pun mengisi di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Sistem penggerak mobil listrik terdiri dari tiga komponen utama:
- Baterai sebagai sumber energi utama.
- Inverter yang mengubah arus DC ke AC untuk menggerakkan motor listrik.
- Motor listrik sebagai penghasil tenaga yang memutar roda.
Karena tak memiliki knalpot, EV tidak menghasilkan emisi gas buang sama sekali. Itulah sebabnya mobil seperti Chery E5 dan Chery J6 sering disebut mobil paling ramah lingkungan di jalanan. Keduanya hanya berbeda di jarak tempuh dan kapasitas baterai. Chery E5 memiliki jarak tempuh sekitar 450 km dengan baterai 61 kWh, sementara Chery J6 memiliki jarak tempuh sekitar 418-426 km dengan baterai 65,69 kWh.
Selain itu, biaya operasional EV luar biasa rendah hingga 80% lebih hemat dibanding mobil bensin. Setiap mobil EV diklaim menghemat biaya per kilometernya mencapai 4-5 kali lebih hemat. Namun, karena masih peralihan era, tentu saja belum sempurna. Tantangan terbesar di Indonesia masih sama yakni jumlah charger publik yang terbatas dan waktu pengisian baterai yang lama.
Mengenal Hybrid (HEV), Campuran Efisien Antara Dua Sumber Tenaga

Sekarang bayangkan mobil yang tidak perlu dicolok ke listrik, tetapi tetap irit bahan bakar dan ramah lingkungan. Itulah konsep Hybrid Electric Vehicle (HEV) sebagai jenis mobil yang menggabungkan mesin bensin dengan motor listrik untuk menghasilkan efisiensi tinggi tanpa repot mencari stasiun pengisian daya.
Mobil hybrid tidak perlu dicas secara eksternal layaknya EV, karena energinya dihasilkan sendiri lewat sistem regenerative braking yaitu proses mengubah energi pengereman menjadi listrik untuk mengisi ulang baterai.
Dalam kondisi macet atau saat kecepatan rendah, mobil akan mengandalkan tenaga motor listrik. Namun, ketika dibutuhkan tenaga lebih besar atau saat melaju di jalan tol, mesin bensin otomatis ikut aktif. Kerja sama keduanya membuat konsumsi bahan bakar bisa lebih hemat hingga 30–40% dibandingkan mobil konvensional.
Menurut riset H. Iskandar (2021) dalam Journal of Automotive Technology Vocational Education, teknologi hybrid dibagi menjadi tiga: Series, Parallel, dan Series-Parallel Hybrid dengan efisiensi dan kompleksitas yang berbeda. Lebih lanjut, Iskandar menyebut bahwa hybrid sebagai “tahapan penting menuju mobil listrik penuh.” Salah satu contoh mobil hybrid modern yang mengusung efisiensi ini adalah Chery Tiggo Cross CSH. Dilengkapi teknologi Chery Super Hybrid (CSH), SUV ini menawarkan perpaduan tenaga yang responsif, hemat bahan bakar, dan tetap nyaman digunakan sehari-hari.
Mengenal PHEV, Hybrid yang Bisa di Charge

Kalau beralih ke EV terasa terlalu “ekstrem” dan hybrid terasa “setengah-setengah”, mungkin PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle) adalah jawabannya.
PHEV merupakan evolusi dari HEV dengan baterai yang bisa dicas listrik eksternal, tetapi juga punya mesin bensin cadangan. Bahkan PHEV diklaim dapat melaju 40–80 km hanya dengan listrik, tergantung kapasitas baterainya.
Begitu baterai habis, sistem otomatis beralih ke mesin bensin. Tidak ada rasa panik karena “range anxiety” atau kekhawatiran kehabisan daya di tengah jalan. Itulah mengapa banyak orang menyebut PHEV sebagai jembatan antara hybrid dan EV penuh.
Menurut International Journal of Electric and Hybrid Vehicles (2017), PHEV menawarkan efisiensi energi terbaik di kelasnya karena fleksibilitas dua sumber tenaga tanpa kehilangan performa.
Contoh model PHEV Chery yang sudah dijual di Indonesia adalah Tiggo 8 CSH dan Tiggo 9 CSH. Tiggo 8 CSH dengan baterai LFP mampu menempuh hingga 90 km dalam mode listrik murni dan lebih dari 1.300 km secara total menggunakan dua sumber tenaga. Sementara Tiggo 9 CSH dengan baterai NCM menawarkan jarak listrik hingga 180 km+ dan daya gabungan mencapai 395 PS. Keduanya memadukan efisiensi bahan bakar dengan performa tinggi khas teknologi Chery Super Hybrid (CSH).
Perbandingan Perbedaan EV vs HEV vs PHEV Secara Umum
Secara singkat, berikut poin-poin yang membedakan ketiga jenis mobil elektrifikasi secara umum. Dari rangkuman ini, kamu juga bisa tahu keunggulan serta kelemahannya:
Aspek | EV | HEV | PHEV |
| Sumber tenaga | 100% listrik | Mesin bensin + motor listrik kecil | Mesin bensin + motor listrik besar |
| Cara isi daya | Melalui charger eksternal | Menggunakan regenerative brake, tidak bisa di charge | Bisa di charge eksternal |
| Jarak tempuh listrik | 200-500 km | 15-25 km | 480-960 km |
| Cocok untuk penggunaan | Kota-antar kota dengan akses mudah charger umum (SPKLU) | Perkotaan, tanpa charger | Pengguna suburban, campuran jarak pendek-jauh |
| Kelebihan |
|
|
|
| Kekurangan |
|
|
|
Jadi, Mana yang Cocok Buat Kamu?
Pilihan jenis mobil elektrifikasi sebenarnya tergantung pada gaya hidup dan lingkungan tempat kamu tinggal. Jika kamu berdomisili di kota besar dan memiliki akses pengisian daya di rumah atau mudah mencari SPKLU, EV adalah pilihan paling efisien dan sangat ideal. Namun, jika kamu sering bepergian jauh ke luar kota, maka PHEV lebih dapat diandalkan. Sedangkan bagi yang sering bepergian, ingin tetap irit bahan bakar tanpa perlu memikirkan penggunaan baterai, HEV menjadi pilihan paling realistis.
Jadi, mobil listrik bukan lagi sekadar visi masa depan, melainkan bagian nyata dari kehidupan kita hari ini. EV memberi kebebasan penuh tanpa bensin, HEV menjaga keseimbangan antara efisiensi dan kepraktisan, sementara PHEV menjembatani keduanya dengan fleksibilitas tinggi.
Dengan teknologi baterai yang semakin membaik dan penambahan SPKLU yang gencar dilakukan, Indonesia sedang melangkah menuju era transportasi bersih. Pemerintah bahkan menargetkan 20% kendaraan baru di tahun 2030 sudah berbasis elektrifikasi.
Kalau tren ini terus tumbuh, bukan tidak mungkin dalam satu dekade ke depan, suara mesin bensin akan perlahan tergantikan oleh dengungan halus motor listrik dan udara kota pun jadi lebih bersih. Ingin merasakan langsung teknologi elektrifikasi terbaru? Kamu bisa mengunjungi dealer Chery terdekat untuk melihat koleksi lengkap mobil EV, HEV, dan PHEV sekaligus test drive bagaimana performa dan kenyamanannya di jalan.
Produk Populer




Tips & Trik Lainnya


Cara Mengurus SIM Hilang Beserta Syarat, Proses dan Biayanya

